Hak Asuh Anak Belum Mumayyiz Akibat Terjadinya Perceraian

Nanik Mahmudah (2022) Hak Asuh Anak Belum Mumayyiz Akibat Terjadinya Perceraian. Thesis thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA,.

[img] Text (HALAMAN JUDUL)
031924253013 COV.pdf

Download (1MB)
[img] Text (BAB 1)
031924253013 BAB 1.pdf

Download (1MB)
[img] Text (FULLTEXT)
031924253013.pdf
Restricted to Registered users only

Download (1MB) | Request a copy
Official URL: https://lib.unair.ac.id/

Abstract

"Perkawinan merupakan ikatan lahir bathin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami dan istri dengan bertujuan membentuk keluarga yang kekal dan bahagia berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Akan tetapi, dalam perkawinan pasti terdapat permasalahan yang membuat sepasang suami dan istri menghentikan harapannya untuk tidak melanjutkan kebersamaannya dan memutuskan untuk berpisah. Dengan terjadinya perceraian, hal krusial yang berdampak adalah mengenai hak asuh anak. Hak asuh anak atau pemeliharaan anak yang belum mumayyiz atau belum berusia 12 tahun adalah hak ibunya, namun apabila pemegang hadhanah tersebut tidak dapat menjamin keselamatan jasmani dan rohani anak, maka pemeliharaan anak tersebut dapat diberikan kepada pihak-pihak yang lebih bisa bertanggung jawab. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis ketentuan terhadap hak asuh anak belum mumayyiz akibat perceraian dan menganalisis putusan Pengadilan Agama dalam memutus hak asuh anak belum mumayyiz akibat perceraian. Metode pendekatan yang digunakan ialah pendekatan perundang-undangan (statute approach), pendekatan kasus (case approach) dan pendekatan konseptual (conceptual approach). Pengasuhan anak ialah suatu kewajiban bagi kedua orang tua, namun terdapat pihak yang lebih berhak dalam mengasuh anak tersebut berdasarkan ketentuan dalam hukum positif di Indonesia, berdasarkan Al-Qur?an dan Hadits. Berkaitan dengan perkara pemeliharaan anak atau hadhanah, Adapun syarat-syarat penentuan pemegang hak pemeliharaan anak, yaitu harus berakal sehat, merdeka, memiliki kasih sayang, dapat dipercaya, beragama islam dan bertempat tinggal. Adapun seorang ibu dikecualikan sebagai pemegang hadhanah apabila murtad, menikah lagi, termasuk dalam istri yang nusyuz. Jika anak tersebut sudah besar, anak tersebut diberikan pilihan di antara ayah dan ibunya untuk diberikan hak hadhanah. Pengaturan mengenai hak asuh anak akibat terjadinya perceraian di Indonesia dan Malaysia memiliki perbedaan dalam kategori eksekusi putusan perkara, yaitu di Indonesia dilaksanakan bukan dengan melakukan suatu perbuatan tertentu yaitu dengan menahan seseorang, sedangkan di Malaysia menggunakan eksekusi dengan melakukan atau menahan seseorang apabila tidak menyerahkan kuasa asuh anak tersebut sesuai dengan waktu yang ditentukan. "

Item Type: Thesis (Thesis)
Additional Information: KKB KK-2 T.FH.K.45/22 Nan h
Uncontrolled Keywords: "Perkawinan, Perceraian, Hak Asuh Anak "
Subjects: B Philosophy. Psychology. Religion > BP Islam. Bahaism. Theosophy, etc > BP174-190 The practice of Islam
H Social Sciences > HQ The family. Marriage. Woman > HQ1-2044 The Family. Marriage. Women > HQ503-1064 The family. Marriage. Home > HQ811-960.7 Divorce
K Law > K Law (General)
K Law > K Law (General) > K1-7720 Law in general. Comparative and uniform law. Jurisprudence > K7000-7720 Private international law. Conflict of laws > K7120-7197 Persons > K7155-7197 Domestic relations. Family law > K7157-7179 Marriage. Husband and wife
Divisions: 03. Fakultas Hukum > Magister Kenotariatan
Creators:
CreatorsNIM
Nanik Mahmudah031924253013
Contributors:
ContributionNameNIDN / NIDK
Thesis advisorINDIRA RETNO ARYATI198003202005012002
Thesis advisorERNI AGUSTIN198308102006042001
Depositing User: mat sjafi'i
Date Deposited: 05 Oct 2026 03:59
Last Modified: 05 Oct 2026 03:59
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/148547
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item