ANALISIS FAKTOR PERILAKU MASYARAKAT TERHADAP TERJADINYA KERACUNAN MAKANAN: STUDI DI SD/Ml YANG PERNAH TERJADI KLB KERACUNAN MAKANAN

Fariani Syahrul, SKM., M.kes and Annis Catur Adi, Ir., M.Si. (2008) ANALISIS FAKTOR PERILAKU MASYARAKAT TERHADAP TERJADINYA KERACUNAN MAKANAN: STUDI DI SD/Ml YANG PERNAH TERJADI KLB KERACUNAN MAKANAN. UNIVERSITAS AIRLANGGA, SURABAYA. (Unpublished)

[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
gdlhub-gdl-res-2008-syahrulfar-7158-kkckkl-i(5).pdf

Download (319kB) | Preview
[img] Text (FULLTEXT)
Binder4.pdf
Restricted to Registered users only

Download (2MB) | Request a copy
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Makanan mempunyai fungsi yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Makanan yang dimakan selain harus memenuhi kebutuhan gizi, juga tidak menimbulkan gejala sakit dan sekaligus memenuhi selera. Bahkan persyaratan keamanan pangan yang akan dikonsumsi, semestinya menjadi persyaratan pertama terpenting yang harus dipenuhi sebelum persyaratan lain. Keamanan pangan atau food safety kini menjadi semakin penting dan perlu lebih diperhatikan oleh masyarakat, termasuk masyarakat sekolah. Apabila aspek keamanan pangan tidak diperhatikan, maka makanan yang dimakan untuk menambah masukan zat gizi bagi tubuh, dapat berbalik menjadi sumber malapetaka, sumber penyakit dan bahkan dapat sebagai penyebab kematian. Salah satu contoh kejadian yang belakangan ini banyak terjadi adalah kejadian keracunan makanan dan minuman yang menimpa anak-anak sekolah. Pada tahun-tahun terakhir ini, frekuensi terjadinya kasus keracunan makanan bahkan Kejadian Luar Biasa (KLB) keracunan makanan meningkat jumlahnya. Di Surabaya, pada periode bulan Mei sampai September 2004 terdapat berbagai kasus keracunan makanan, diantaranya adalah (1) Bulan Mei 2004, Siswa-siswa SDN Barata Jaya mengalami keracunan, yang diduga akibat mengkonsumsi minuman kemasan merk Ribena (diduga keracunan Chery hitam); (2) Bulan Agustus 2004, karyawan Carrefour keracunan makanan makanan di kantin Carrefour; (3)Bulan September 2004, siswa SDN Sawahan mengalami mual-mual, pusing dan muntah-muntah setelah mengkonsumsi susu sehat PMT-AS Pemkot Surabaya; (4) Bulan September, siswa MI Uswatul Khasanah Al-Munawaroh, Kec Kenjeran Surabaya mengalami keracunan setelah minum susu kemasan yang sudah kadaluarsa yang dijual murah disekitar sekolah. Kasus-kasus keracunan tersebut diatas, hanyalah sebagian contoh dari kasus-kasus keracunan yang pernah terjadi di masyarakat, khususnya masyarakat sekolah di Kota Surabaya. Tujuan penelitian ini adalah (1) mendeskripsikan karakteristik responden meliputi umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan dan jenis pekerjaan; (2) mempelajari pengetahuan masyarakat tentang keamanan makanan dan keracunan makanan; (3) mempelajari sikap masyarakat terhadap keamanan makanan dan keracunan makanan serta (4) mempelajari tindakan masyarakat dalam keamanan makanan dan pencegahan serta penanggulangan terjadinya keracunan makanan Jenis penelitian adalah obervasional deskriptif dengan rancang bangun penelitian adalah cross sectional. Penelitian ini dilakukan di Sekolah Dasar Sawahan III dengan alasan di sekolah tersebut pernah mengalami KLB Keracunan Makanan pada tahun 2004/2005. Sampel penelitian terdiri dari siswa SD masing-masing kelas V dan kelas VI, guru sekolah (total populasi) dan penjaja makanan di sekolah dan sekitar sekolah ( total populasi). Penelitian ini menggunakan data primer dan data sekunder sebagai pemdukung. Data primer diperoleh dengan cara wawancara menggunakan kuesioner kepada siswa, guru dan penjaja makanan dan wawancara langsung secara mendalam (indepih interview) dengan pedoman wawancara kepada guru dan penjaja makanan. Data yang telah terkumpul, diolah dan dianalisis secara deskriptif. Disajikan dalam bentuk narasi, tabel dan grafik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa umur siswa antara 10-13 tahun, rata-rata umur guru adalah 42,2 tahun sedangkan rata-rata umur penjaja makanan adalah 35,8 tahun. Sebagian besar siswa dan guru adalah perempuan sedangkan sebagian besar penjaja makanan adalah laki-laki. Pendidikan guru berkisar antara SMA sampai perguruan tinggi , sedangkan penjaja makanan adalah SD sampai SMA. Dari hasil penelitian ini, sebagian besar guru mempunyai pengetahuan yang tinggi tentang keamanan dan keracunan makanan yaitu 77,8 %. Sehingga diharapkan, demikian juga dengan pengetahuan siswa anak didiknya. Tidak ada guru yang mempunyai tingkat pengetahuan rendah. Tingkat pengetahuan siswa tentang keamanan dan keracunan makanan hampir sama proporsinya antara tingkat pengetahuan tinggi (34,1%), sedang (29,3%) dan rendah (36,6%). Beberapa jawaban siswa yang termasuk pada keamanan makanan adalah batas aman makanan untuk dikonsumsi adalah tanggal kadaluarsa dan kondisi kemasan dengan alasan jika bungkusnya kotor Siswa yang mempertimbangkan kondisi kemasan dalam memilih dan membeli makanan jajanan sebanyak (60 %). Sedangkan penjaja makanan 50 % mempunyai tingkat pengetahuan sedang. Jika dilihat dari beberapa pertanyaan, nampak bahwa mereka belum paham benar tentang arti tanggal kadaluarsa. Sebagian besar penjaja makanan mengatakan tidak tahu arti dari tanggal kadaluarsa, meskipun separoh dari mereka mengatakan bahwa batas aman makanan untuk dikonsumsi adalah tanggal kadaluarsa. Tinggi rendahnya tingkat pengetahuan responden tersebut diduga berkaitan dengan akses memperoleh informasi dan latar belakang sosial budaya, tingkat pendidikan dan keberadaan media (cetak ataupun elektronik) yang dimiliki . Selain itu, semua penjaja makanan mengatakan belum pernah mengikuti kursus atau pelatihan yang berhubungan dengan keamanan makanan. Mengingat berbagai keterbatasan yang dimiliki penjaja makanan, maka pembinaan (sifatnya gratis) sangat memungkinkan untuk dapat memperbaiki keadaannya. Sebagian besar siswa (85,4%), guru (100,0%) maupun penjaja makanan (83,3 %) mempunyai sikap yang positif terhadap keamanan dan keracunan makanan. Dalam arti, mereka mempunyai sikap yang baik (benar) terhadap keamanan dan keracunan makanan. Keamanan dan makanan merupakan tanggung jawab dari penjual makanan dan masyarakat (konsumen), pernyataan tersebut disetuju oleh sebagaian besar siswa dan guru. Namun penjaja makanan lebih menyetujui Keamanan dari makanan merupakan tanggung jawab dari penjual makanan saja. Tampaknya penjaja makanan tersebut merasa bertanggung jawab atas keselamatan pembeli makanan. Kita tidak perlu memperhatikan tanggal kadaluarsa, jika masih tampak baik dan yang penting murah. Sebagian besar siswa, guru dan penjaja makanan, tidak setuju dengan pernyataan tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa mereka mengerti kegunaan dari tanggal kadaluarsa. Sikap ini sesuai dengan tindakan sebagian besar responden, yang mempertimbangkan tanggal kadaluarsa pada saat mereka memilih dan membeli makanan kemasan atau minuman.Juru masak yang sakit dapat menjadi penyebab keracunan makanan sebagian besar siswa dan guru menyatakan tidak setuju dengan pernyataan tersebut. Sedangkan penjaja makanan mengatakan ragu-ragu. Melihat jawaban responden terhadap pernyataan tersebut, nampaknya mereka belum paham jika juru masak yang sakit dapat menjadi sumber penular terjadinya keracunan makanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar siswa (60,9%) mempertimbangkan rasa dalam memilih dan membeli makanan jajanan. Namun demikian , ada juga siswa yang tidak mempertimbangkan rasa dalam memilih dan membeli makanan jajanan karena lebih mempertimbangkan tanggal kadaluarsa. Dalam memilih dan membeli makanan jajanan, semua guru (100%) mempertimbangkan kondisi kemasan/bungkus dan tanggal kadaluarsanya. Sedangkan semua penjaja makanan (100%) mempertimbangkan merk, rasa dan tanggal kadaluarsa jika kulakan. Sebagian besar responden yaitu siswa, guru dan penjaja makanan, tanggal kadalaluarsa menjadi pertimbangan saat memilih dan membeli makanan jajanan maupun minuman kemasan. Adanya sistem labelling pada makanan jajanan (dalam kemasan) dan minuman kemasan adalah alat informasi termudah yang dapat digunakan oleh konsumen untuk mendeteksi apakah makanan tersebut sudah kadaluarsa atau tidak, sehingga tujuan dari keamanan makanan dapat terwujud. Selanjutnya, diharapkan dapat mencegah terjadinya kasus-kasus keracunan makanan. Saran dari hasil penelitian ini adalah (1) perlu adanya peningkatan pengetahuan siswa tentang keamanan dan keracunan makanan mengingat sebagian besar siswa mempunyai tingkat pengetahuan yang rendah dan (2) perlu adanya penyuluhan dan pembinaan bagi penjaja makanan di sekitar sekolah, karena aman tidaknya makanan yang dijual di sekitar sekolah dapat mempengaruhi status kesehatan siswa di sekolah tersebut.

Item Type: Other
Additional Information: KKC KK LP 93/08 Sya a
Uncontrolled Keywords: Food safety, food intoxication, behavior.
Subjects: R Medicine > RA Public aspects of medicine > RA1-1270 Public aspects of medicine > RA421-790.95 Public health. Hygiene. Preventive medicine
R Medicine > RA Public aspects of medicine > RA1-1270 Public aspects of medicine > RA421-790.95 Public health. Hygiene. Preventive medicine > RA601-602 Food and food supply in relation to public health
Divisions: Unair Research > Exacta
10. Fakultas Kesehatan Masyarakat
Creators:
CreatorsNIM
Fariani Syahrul, SKM., M.kesUNSPECIFIED
Annis Catur Adi, Ir., M.Si.UNSPECIFIED
Depositing User: Nn Deby Felnia
Date Deposited: 23 Oct 2016 19:07
Last Modified: 23 Oct 2016 19:11
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/40736
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item