Rezza Bagus Afif Amana, - (2022) Menjadi Korban Bullying Di Sekolah: Sebuah Studi Fenomenologi Tentang Mind Dan Self. Skripsi thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.
|
Text (HALAMAN JUDUL)
071611433031_HALAMAN JUDUL.pdf Download (600kB) |
|
|
Text (BAB I)
071611433031_BAB I.pdf Download (644kB) |
|
|
Text (FULLTEXT)
071611433031_FULLTEXT.pdf Restricted to Registered users only Download (1MB) | Request a copy |
Abstract
Studi ini mencoba memahami pengalaman sembilan individu yang memiliki pengalaman menjadi korban bullying di sekolah yang sehubungan dengan itu mengkonstruksikan self serta identitas sosialnya. Paradigma interpretatif, khususnya yang berasal dari tradisi interaksionisme simbolik digunakan untuk mewawancarai informan yang menjadi korban bullying ketika di sekolah. Pendekatan fenomenologi dipakai sebagai kerangka metodologis untuk memahami bagaimana individu memahami dunia di sekitar mereka berdasarkan pengalaman dan makna yang relevan. Secara umum studi ini menemukan bahwa menjadi korban bullying adalah sebuah pengalaman yang kompleks dan kaya serta melibatkan berbagai aspek interaksi sosial yang mendalam. Menjadi korban bullying adalah hal lain di mana dapat mempengaruhi kehidupan pribadi dan sosial setiap individu secara kompleks. Menjadi korban bullying tidak hanya dapat menghasilkan sebuah penalaran baru yang terbentuk secara sosial namun juga dapat memberikan gambaran yang berbeda dengan yang selama ini berkembang terkait dengan bullying. Menjadi korban bullying mendorong individu untuk mengidentifikasi dirinya sebagai seseorang yang mendapat sebuah “ujian”, di mana konsep tersebut dibentuk secara sosial agar self sebagai sebuah individu dalam kelompok mampu bertahan dalam kondisi penuh tekanan dari perlakuan bullying. Selain itu banyaknya fenomena bullying yang ditemui oleh individu membentuk interpetasi sosial bahwa memang bullying adalah fenomena yang pasti terjadi di sekolah. Hal tersebut mendorong informan membentuk pertahanan sosial berupa menciptakan peergroup, mencari pihak yang mampu medominasi, dan sebagainya. Serta bullying sebagai sebuah fenomena sosial mampu mengendalikan (social control ) individu lain dalam suatu kelompok sosial. Hal tersebut didorong oleh adanya kesesuaian(conformity) yang banyak berkaitan dengan tubuh, patriarki, serta nilai dan norma yang melingkupi kelompok sosial tersebut. Sehingga bullying cenderung dijadikan sebagai sebuah bentuk sosialisasi model baru untuk menunjukan dominasi (power) yang dimiliki oleh suatu individu kepada individu lain, yang mana hal tersebut menjadi sebuah realitas sosial yang dijadikan sebagai rujukan oleh individu lain di dalam kelompok sosial dan menjadi normalisasi baru di dalamnya.
| Item Type: | Thesis (Skripsi) | ||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Additional Information: | KKB KK S.FISIP.S.17-22 Rez m | ||||||
| Uncontrolled Keywords: | Interaksionisme simbolik, bullying, makna, Generalized Other | ||||||
| Subjects: | H Social Sciences > HM Sociology > HM(1)-1281 Sociology > HM1001-1281 Social psychology > HM1106-1171 Interpersonal relations. Social behavior | ||||||
| Divisions: | 07. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik > Sosiologi | ||||||
| Creators: |
|
||||||
| Contributors: |
|
||||||
| Depositing User: | sugiati | ||||||
| Date Deposited: | 03 Jul 2026 02:06 | ||||||
| Last Modified: | 03 Jul 2026 02:06 | ||||||
| URI: | http://repository.unair.ac.id/id/eprint/143469 | ||||||
| Sosial Share: | |||||||
Actions (login required)
![]() |
View Item |


