Studi Penggunaan Ceftriaxone pada Pasien Meningoensefalitis di RSUD DR. SOETOMO pada Tahun 2019—2020

Muhammad Hasan Al Banna, - (2022) Studi Penggunaan Ceftriaxone pada Pasien Meningoensefalitis di RSUD DR. SOETOMO pada Tahun 2019—2020. Skripsi thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img] Text (HALAMAN I)
011911133237 HALAMAN I.pdf

Download (391kB)
[img] Text (BAB I)
011911133237 BAB I.pdf

Download (130kB)
[img] Text (FULL TEXT)
011911133237.pdf
Restricted to Registered users only

Download (2MB) | Request a copy
Official URL: https://lib.unair.ac.id/

Abstract

Latar belakang: Meningitis ensefalitis menjadi penyakit dengan peringkat ke-17 di Indonesia pada tahun 2007, dengan proporsi kematian sebanyak 0,8%. Setiap pasien dengan kecurigaan meningitis ensefalitis perlu diberikan antibiotik sebagai terapi empiris sembari menunggu hasil kultur dari lumbal pungsi. Ternyata, pemberian obat antibiotik tersebut tidak lepas dari risiko resistensi sehingga diperlukan pengawasan dan evaluasi untuk mencegah terjadinya resistensi. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil pasien, pola dan ketepatan penggunaan antibiotik pada pasien meningitis dan/atau ensefalitis di RSUD DR. SOETOMO pada tahun 2019— 2020. Metode: Penelitian ini bersifat deskriptif retrospektif observasional dengan total 82 rekam medis pada pasien dengan diagnosis meningitis dan/atau ensefalitis yang diberikan antibiotik sebagai terapi empiris di RSUD DR. SOETOMO pada tahun 2019—2020. Hasil: Usia pasien dari 82 data yang didapat cukup bervariasi, namun usia lansia akhir dengan usia 56—65 tahun memiliki jumlah tertinggi yaitu 16 dari 82 pasien (20%). Kemudian, jenis kelamin pada pasien terbanyak didapatkan pada jenis kelamin laki-laki dengan jumlah 49 dari 82 dengan perbandingan pria dan wanita adalah 3:2. Kondisi akhir pasien terbanyak didapatkan pada kondisi akhir meninggal dengan jumlah 42 dari 82 pasien (51%). Seluruh antibiotik yang digunakan adalah Ceftriaxone dengan rute injeksi dalam interval 12 jam. Dosis yang paling sering digunakan adalah 2 gram (89%), serta durasi yang paling banyak digunakan adalah 7 hari (21%). Hasil analisis metode Gyssen didapatkan kategori I sebanyak 80 (98%) dan IIIb sebanyak 2 (2%). DDD per 100 hari rawat pada penelitian ini didapatkan 66,2 DDD/100 hari rawat Kesimpulan: Pasien meningitis dan/atau ensefalitis terbanyak memiliki usia lansia akhir yaitu 56—65 tahun, berjenis kelamin laki-laki, dan kondisi akhir meninggal dunia. Antibiotik empiris yang digunakan seluruhnya dengan Ceftriaxone melalui intravena dengan interval 12 jam. Sebagian besar antibiotik diberikan dalam 7 hari dan dosis 2 gram. Hasil analisis didapatkan 98% penggunaan antibiotik sudah tepat.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information: KKA KK S.FK.D 222 - 23 Muh s
Uncontrolled Keywords: ibiotics, meningitis, encephalitis, patient profile, Gyssen method
Subjects: R Medicine > RS Pharmacy and materia medica
R Medicine > RS Pharmacy and materia medica > RS200-201 Pharmaceutical dosage forms
Divisions: 01. Fakultas Kedokteran > S1 Kedokteran
Creators:
CreatorsNIM
Muhammad Hasan Al Banna, -NIM011911133237
Contributors:
ContributionNameNIDN / NIDK
Thesis advisorPAULUS SUGIANTO, -NIP196401291990031004
Thesis advisorMAFTUCHAH ROCHMANTI, -NIP197408112003122001
Depositing User: Dewi Puspita
Date Deposited: 28 Sep 2026 00:39
Last Modified: 28 Sep 2026 00:39
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/147947
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item