Inong Retno Gunanti, - and R. Bambang Wiryatmadi, - and Merryana Adriani, - and Santi Martini, - (2000) Faktor- Faktor Yang Mempengaruhi Konsumsi Sayuran Pada Anak Pra-Sekolah. Other thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.
|
Text (ABSTRAK)
ABSTRAK.pdf Download (1MB) |
|
|
Text (FULLTEXT)
INONG RETNO GUNANTI.pdf Restricted to Registered users only Download (3MB) | Request a copy |
Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kontribusi sayur dalam pemenuhan zat gizi, khususnya vitamin dan mineral; mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi konsumsi sayur; serta mempelajari hubungan karakteristik sayur, kebiasaan makan anak, cara memberi sayur, dan ketersediaan sayur di rumah tangga dengan konsumsi sayur pada anak prasekolah. Penelitian ini dilakukan secara cross-sectional di Kelurahan Simomulyo, Kecamatan Sukomanunggal, Kotamadya Surabaya, dengan mengambil secara acak sejumlah 100 anak prasekolah usia 3–5 tahun. Wawancara dengan menggunakan kuesioner dilakukan untuk mendapatkan data tentang karakteristik sosial ekonomi keluarga, ketersediaan sayur di rumah tangga, kebiasaan makan anak prasekolah, dan tingkat pengetahuan gizi ibu. Data tentang konsumsi sayur dan karakteristik sayur diperoleh dengan recall 24 jam makanan yang dikonsumsi anak. Responden adalah ibu rumah tangga atau anggota keluarga lain yang dianggap paling mengetahui keadaan konsumsi pangan anak. Untuk mengetahui hubungan antara variabel yang diteliti digunakan uji Chi-Square, sedangkan untuk mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap konsumsi sayur pada anak prasekolah digunakan uji Regresi Logistik Berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebesar 60% anak prasekolah yang diteliti berjenis kelamin laki-laki dan 40% berjenis kelamin perempuan, dengan rata-rata umur 50 bulan. Tingkat pendidikan kepala keluarga sebagian besar tamat SLTA (58%), tamat SD (14%), tamat SLTP (15%), dan tamat PT/Diploma (13%). Tingkat pendidikan ibu sebagian besar tamat SLTA (44%), tamat SD (22%), tamat SLTP (25%), dan tamat PT/Diploma (9%). Jenis pekerjaan kepala keluarga sebagian besar pegawai swasta (73%), wiraswasta (23%), PNS (3%), dan ABRI (1%). Sebagian besar ibu tidak bekerja (66%), 16% pegawai swasta, 17% wiraswasta, dan 1% PNS. Rata-rata konsumsi sayur masih kurang dari anjuran, yaitu 50,9 gram/kapita/hari. Berdasarkan tingkat kecukupan energi, sebagian besar anak prasekolah tergolong rawan (54%), 24% kurang, 14% sedang, dan 8% normal. Berdasarkan tingkat kecukupan protein, sebagian besar anak prasekolah tergolong normal (67%), 6% rawan, 14% kurang, dan 13% sedang. Rata-rata konsumsi vitamin A dan mineral fosfor sudah melebihi angka kecukupan (>100% angka kecukupan anjuran), sedangkan rata-rata konsumsi vitamin C rendah (<50% angka kecukupan anjuran). Rata-rata konsumsi mineral kalsium masih kurang (72,4% angka kecukupan anjuran), sedangkan mineral besi sudah cukup baik (87,5%). Pada anak prasekolah yang konsumsi sayurnya tidak baik (<75 gram/kapita/hari), rata-rata konsumsi dan tingkat kecukupan vitamin dan mineralnya lebih rendah jika dibandingkan dengan anak prasekolah yang konsumsi sayurnya baik (≥75 gram/kapita/hari). Umumnya, tingkat kecukupan vitamin dan mineral pada kelompok dengan konsumsi sayur baik sudah di atas 70% angka kecukupan anjuran. Kontribusi sayur terhadap konsumsi zat gizi, khususnya vitamin dan mineral, ternyata sangat rendah. Tingginya konsumsi zat gizi sebagian besar berasal dari pangan selain sayur. Pada anak prasekolah yang konsumsi sayurnya tidak baik, kontribusi vitamin dan mineral yang berasal dari sayur lebih rendah daripada anak prasekolah yang konsumsi sayurnya baik, terutama kontribusi vitamin A yang mencapai 68,39% dan vitamin C yang mencapai 59,84% berasal dari sayur. Frekuensi makan sebagian besar anak prasekolah adalah tiga kali sehari (87%), 12% makan dua kali sehari, dan 3% makan satu kali sehari. Pada kelompok anak prasekolah yang konsumsi sayurnya tidak baik, sebagian besar berpola makan nasi dan lauk-pauk (76,1%), sedangkan 23,9% berpola makan nasi, lauk-pauk, dan sayur. Pada kelompok anak prasekolah yang konsumsi sayurnya baik, sebagian besar berpola makan nasi, lauk-pauk, dan sayur (90,9%), sebesar 6,1% berpola makan nasi, lauk-pauk, sayur, dan buah, serta 3% berpola makan nasi, lauk-pauk, sayur, buah, dan susu. Rata-rata pendapatan keluarga pada kelompok anak prasekolah yang konsumsi sayurnya tidak baik sebesar Rp76.160,00, sedangkan pada kelompok yang konsumsi sayurnya baik sebesar Rp674.182,00. Sebagian besar ibu memiliki tingkat pengetahuan sedang (60%), 27% rendah, dan 13% tinggi. Jenis sayur yang biasa dikonsumsi/disukai oleh anak prasekolah yang konsumsi sayurnya baik adalah sayur daun (81,5%), sayur umbi (12,2%), dan sayur kacang (6%). Pada kelompok anak prasekolah yang konsumsi sayurnya tidak baik, jenis sayur yang biasa dikonsumsi/disukai anak adalah sayur umbi (36,7%), sayur daun (31,3%), sayur kacang (10,4%), dan sayur buah (1,5%). Cara pengolahan sayur yang disenangi anak prasekolah yang konsumsi sayurnya baik adalah sayur rebus (81,8%) dan sayur tumis (18%). Pada kelompok yang konsumsi sayurnya tidak baik, sayur rebus sebesar 26,9%, sayur tumis 41,8%, dan santan 16,4%. Cara memberi sayur pada anak prasekolah yang konsumsi sayurnya baik sebagian besar dilakukan dengan dibujuk (72,7%), 15,2% dibiarkan, dan 12,1% dipaksa. Pada anak yang konsumsi sayurnya tidak baik, sebagian besar dibiarkan (58,2%), dipaksa (28,4%), dan dibujuk (13,4%). Ketersediaan sayur di rumah tangga, khusus bagi anak, pada anak prasekolah yang konsumsi sayurnya baik adalah 100% tersedia. Pada kelompok anak prasekolah yang konsumsi sayurnya tidak baik, sayur khusus bagi anak tersedia sebesar 13,4% dan 86,6% tidak tersedia. Frekuensi konsumsi sayur pada anak prasekolah yang konsumsi sayurnya baik adalah 100% harian, sedangkan pada anak yang konsumsi sayurnya tidak baik sebagian besar adalah mingguan (50,7%), bulanan (34,3%), dan harian (14%). Usia pertama diberi sayur pada anak prasekolah yang konsumsi sayurnya baik sebagian besar adalah >12–24 bulan (84,8%), sedangkan pada anak prasekolah yang konsumsi sayurnya tidak baik sebagian besar adalah >24–36 bulan (64,2%). Terdapat hubungan yang nyata antara jenis sayur yang dikonsumsi, cara pengolahan sayur dengan direbus, cara memberi sayur dengan dibujuk, ketersediaan sayur di rumah tangga khusus untuk anak, frekuensi konsumsi sayur harian, dan usia pertama diberi sayur (12–24 bulan) dengan konsumsi sayur pada anak prasekolah. Faktor yang berpengaruh nyata terhadap konsumsi sayur pada anak prasekolah adalah cara memberi sayur dengan dibujuk (p<0,05; OR=0,2367). Pola asuh makan sayur dengan cara dibujuk menciptakan suasana yang menyenangkan bagi anak. Sumber: Pusat Penelitian dan Pengembangan Gizi Universitas Airlangga, No. Kontrak 805/J03.2/PG/1999, 1 Oktober 2000.
| Item Type: | Thesis (Other) | ||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Gizi, anak Pra sekolah | ||||||||||
| Subjects: | R Medicine > RA Public aspects of medicine > RA1-1270 Public aspects of medicine > RA421-790.95 Public health. Hygiene. Preventive medicine > RA773-788 Personal health and hygiene | ||||||||||
| Creators: |
|
||||||||||
| Depositing User: | Fahimatun Nafisa Nafisa | ||||||||||
| Date Deposited: | 30 Sep 2026 04:24 | ||||||||||
| Last Modified: | 30 Sep 2026 04:24 | ||||||||||
| URI: | http://repository.unair.ac.id/id/eprint/148141 | ||||||||||
| Sosial Share: | |||||||||||
Actions (login required)
![]() |
View Item |


