Studi Penggunaan Obat Anticemas Pada Pasien Gangguan Cemas Menyeluruh (Penelitian dilakukan di Poli Jiwa RSUD Dr. Soetomo Surabaya)

Debora Liudi Mulyo (2015) Studi Penggunaan Obat Anticemas Pada Pasien Gangguan Cemas Menyeluruh (Penelitian dilakukan di Poli Jiwa RSUD Dr. Soetomo Surabaya). Skripsi thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.

[img] Text (HALAMAN JUDUL)
1. HALAMAN JUDUL.pdf

Download (289kB)
[img] Text (ABSTRAK)
2. ABSTRAK.pdf

Download (119kB)
[img] Text (BAB 1)
3. BAB I.pdf

Download (177kB)
[img] Text (BAB 2)
4. BAB II.pdf
Restricted to Registered users only until 21 April 2023.

Download (580kB) | Request a copy
[img] Text (BAB 3)
5. BAB III.pdf
Restricted to Registered users only until 21 April 2023.

Download (168kB) | Request a copy
[img] Text (BAB 4)
6. BAB IV.pdf
Restricted to Registered users only until 21 April 2023.

Download (130kB) | Request a copy
[img] Text (BAB 5)
7. BAB V.pdf
Restricted to Registered users only until 21 April 2023.

Download (337kB) | Request a copy
[img] Text (BAB 6)
8. BAB VI.pdf
Restricted to Registered users only until 21 April 2023.

Download (203kB) | Request a copy
[img] Text (BAB 7)
9. BAB VII.pdf
Restricted to Registered users only until 21 April 2023.

Download (117kB) | Request a copy
[img] Text (DAFTAR PUSTAKA)
10. DAFTAR PUSTAKA.pdf

Download (173kB)
[img] Text (LAMPIRAN)
11. LAMPIRAN.pdf
Restricted to Registered users only until 21 April 2023.

Download (402kB) | Request a copy
Official URL: http://lib.unair.ac.id

Abstract

Gangguan cemas menyeluruh (GAD) merupakan salah satu gangguan cemas dengan prevalensi sebesar 5 – 8 %. Untuk pemberian obat anticemas harus dilakukan secara tepat disesuaikan dengan kondisi klinis pasien. Hal ini disebabkan variabilitas respon individual terhadap obat anticemas (ditunjukkan oleh dosis dan lama terapi yang berbeda antar pasien), jenis anticemas yang berkaitan dengan manifestasi klinik, efek samping obat anticemas, penggunaan anticemas pada saat pasien mempunyai kelainan fungsi ginjal atau hepar, berdasarkan komorbiditas, usia pasien atau kondisi khusus lainnya. Oleh karena itu, manajemen terapi pada pasien dengan gangguan cemas menyeluruh harus diperhatikan dengan cermat, baik dalam hal pemilihan jenis obat maupun pengaturan regimen dosis.Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji jenis obat, regimen dosis, bentuk sediaan, dam frekuensi pemberian obat anticemas dikaitkan dengan data klinik pasien, serta mengidentifikasi adanya problema obat yaitu efek samping serta interaksi potensial dan aktual yang mungkin terjadi antara obat anticemas dengan obat lainnya. Penelitian dilakukan secara retrospektif pada periode 1 Januari 2014 hingga 31 Maret 2015 di Poli Jiwa RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Penelitian ini di – review dari Komite Etik Penelitian Kesehatan RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Sampel penelitian ini adalah pasien yang memenuhi kriteria diagnostik gangguan cemas menyeluruh berdasarkan PPDGJ – III (F 41.1), yang mendapatkan terapi obat anticemas selama ≥ 4 minggu, serta memiliki data klinik dan profil terapi yang lengkap (N = 30).Hasil penelitian menunjukkan pasien terdiri dari 20 pasien perempuan (67%) dan 10 pasien laki – laki (33%); rentang usia paling banyak berada pada rentang 45 – 54 tahun (40%); bertempat tinggal terbanyak dari Surabaya Timur (27%); dengan riwayat pendidikan paling banyak sampai pada tamat pendidikan SMA (60%). Sebagian besar pasien GAD tidak mempunyai riwayat keluarga yang pernah atau sedang mengalami gangguan jiwa (10%). Gejala klinis yang sering dialami adalah rasa cemas yang berlebihan (100%) dan gangguan tidur (70%).Komorbid yang paling banyak terjadi adalah depresi (43%). Terapi yang diterima pasien GAD adalah obat anticemas golongan benzodiazepin, meliputi alprazolam (60%), klobazam (50%), dan lorazepam (23%).Semuanya diberikan secara peroral dalam bentuk tablet atau tablet salut.Dosis alprazolam yang diberikan sebesar 0,25 mg – 2 mg (1 – 3 kali sehari), dosis klobazam 5 mg – 20 mg (1 – 2 kali sehari), dan dosis lorazepam 0,25 mg – 2 mg (satu kali sehari). Dosis dan frekuensi yang diberikan sesuai dengan referensi. Alprazolam dan lorazepam digunakan untuk mengatasi GAD dengan gangguan tidur berat; klobazam digunakan untuk pasien yang ingin tetap aktif berkegiatan (efek sedasi ringan); lorazepam digunakan untuk pasien dengan kelainan fungsi hati atau ginjal.Problema obat potensial adalah efek samping alprazolam yaitu mengantuk, kepala ringan, depresi, sakit kepala, mulut kering, konstipasi, diare; efek samping klobazam yaitu mengantuk, infeksi saluran pernafasan bagian atas, pireksia; efek samping lorazepam yaitu sedasi,pusing, lemas; dan interaksi antara obat alprazolam dengan fluoksetin,alprazolam dengan sertralin, serta klobazam dengan fluoksetin.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information: KKB KK-2 FF FK 40 15 Mul s
Uncontrolled Keywords: anxiety disorder
Subjects: R Medicine > RM Therapeutics. Pharmacology > RM300-666 Drugs and their actions
Divisions: 05. Fakultas Farmasi > Farmasi Klinis
Creators:
CreatorsNIM
Debora Liudi MulyoNIM051111099
Contributors:
ContributionNameNIDN / NIDK
Thesis advisorYulistianiNIDN0028046605
Depositing User: Turwulandari
Date Deposited: 08 Mar 2016 12:00
Last Modified: 21 Apr 2020 07:41
URI: http://repository.unair.ac.id/id/eprint/18375
Sosial Share:

Actions (login required)

View Item View Item